4 Hal Ini Bakal Kamu Rasakan Ketika Bekerja Sama dengan Rekan yang Super Pasif

Sebagai manusia yang nggak mungkin hidup sendiri, pastinya mau nggak mau kita bakal dihadepin sama yang namanya ‘rekan’. Entah itu rekan kerja, rekan sepermainan, rekan bisnis, maupun rekan jalan-jalan.

Kalau rekan jalan-jalan atau rekan main sih dampaknya nggak begitu besar ya? Tapi kalau rekan kerja, rekan nugas, dan sejenisnya? Wah, jangan dianggap remeh deh! Mereka punya andil yang cukup besar dalam menyukseskan langkah dan karir kita ke depannya. Beruntunglah orang-orang ketika bekerja sama dengan rekan yang baik, aktif, dan rajin. Sebaliknya, dapet rekan kerja yang super pasif itu nyiksa banget. Bahkan mungkin kalau kesel bisa sampe ke ubun-ubun larinya.

rekan kerja harmonis

Orang yang pasif cenderung lebih pasrah dengan keadaan di sekitarnya. Udah gitu, kepekaan mereka kurang dan lama tanggapnya.  Jadilah apa-apa kita sendiri yang harus handle. Kayaknya ada rekan atau enggak ya sama aja.

Sejujurnya, kalau disuruh milih mendapat rekan kerja yang super pasif atau ngerjain semua hal sendirian, pastinya bakal nunjuk opsi terakhir. Alesannya sih gampang aja, kalau itu pekerjaan yang butuh nilai, kita puasnya bisa berkali lipat karena dikerjain sendiri dan nggak buang waktu nungguin rekan kerja yang lamban. Selain itu, kita ga perlu gondok, karena rekan pasif tersebut dapet credit dari sesuatu yang ga dia kerjain.

Nggak hanya itu, seenggaknya empat hal ini bakal kamu rasakan saat bekerja sama dengan rekan kerja super pasif:

  1. Gemes dan geregetan sendiri

Orang-orang yang pasif biasanya lebih banyak diam dan jarang bersuara ketika sedang diajak kerja sama menuntaskan pekerjaan. Namanya juga pasif, ngomongnya tentu nunggu perintah atau nunggu diminta dulu. Tapi, yang paling ngeselin itu, mereka adalah rekan sekaligus temen kita sendiri. Mau kesel nggak enak, nggak kesel tapi orangnya ngeselin banget. What should I do? Ujung-ujungnya kitalah yang harus nahan diri buat nggak kesel atau pun marah. Paling juga gemes sendiri sambil istighfar banyak-banyak.

 

  1. Rasanya kerja sama ingin segera diakhiri

Kadang kita nggak bisa minta rekan kerja yang super duper sempurna. Tapi Tuhan memang adil. Seringkali kita yang rame n super aktif ini justru ditempatin di antara mereka yang pasif supaya suatu kelompok bisa jadi sempurna dan saling melengkapi kekurangan di dalamnya. Ya, dibawa positif aja deh.

Praktiknya? Mau sepenting apa pun bentuk kerja sama itu, kalau rekan kerja cenderung pasif, ya pasti pengen cepet diselesein. Saking pengen urusan kerja cepet kelar, kita jadi mati-matian cari cara yang efektif dan dalam waktu singkat supaya pekerjaan cepat selesai. Ujungnya kita lagi.. kita lagi!

menghadapi rekan kerja yang pasif

  1. Tugas jadi lebih banyak

Adanya rekan kerja adalah untuk membantu pekerjaan kita biar cepet selesai. Tapi, kalau dapetnya ternyata orang yang pasif? Dijamin deh, malah nambah kerjaan. Harusnya lima menit yang berlalu bisa kita gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan A, tapi karena si rekan kerja ini, lima menit tadi jadi habis buat ngasih tahu dia buat nunjukin apa yang mesti dilakukannya.

 

  1. Menguji kesabaran sampai akhirnya stress

Pada awalnya, kita sempet berpikir kalau orang pasif bisa diubah menjadi sosok yang berkepribadian aktif. Akhirnya kita berusaha mati-matian untuk menyadarkannya, tetapi respon yang diterima tetaplah sama, yaitu kosong sama sekali. Akhirnya kita sendiri yang mengalami stress. Antara menyelesaikan kerjaan dan mengharap rekan pasif punya progress yang lebih baik.

 

Anehnya, banyak orang yang super pasif mengaku kalau sikap mereka adalah bagian dari takdir yang nggak bisa diubah dan harus dihargai. Padahal menjadi pasif atau aktif adalah pilihan. Tahu nggak? sikap super pasif berpeluang besar menghancurkan pekerjaan tim yang sudah susah payah dibangun lho!

Please follow and like us: